HOME

Sore ini kulihat lagi serombongan burung burung gereja terbang diatas pohon pohon mahoni yang tumbuh berjajar di halaman depan rumahku.Mereka kembali pulang ke sarang setelah sepanjang hari pergi meninggalkan nya.
Seperti burung burung itu,kita secara naluriah bergerak untuk mencari rumah kita masing masing.Home.Begitulah yang tepat kita beri pengertian tentang rumah untuk pulang.

Siapapun itu,tak perduli dari status sosial manapun selalu akan mencari tempat untuk pulang.Semakin bertambahnya usia semakin besarlah kebutuhan untuk ini.Home adalah tempat dimana kita tidak lagi bersembunyi dari bentuk yang selalu ingin kita tampilkan di luar.Kita menjadi manusia bebas.Kita tidak terikat pada kesan yang harus kita tampilkan pada manusia lain yang kita temui setiap saat di luar sana.Selalu terlihat cerdas,berwibawa,tegar dan lain lain. Home adalah tempat berkumpulnya orang orang yang kita cintai dan mencintai kita.yang senantiasa memberikan kehangatan dan kenyamanan. Tempat kita beristirahat secara fisik dan batiniah.Tempat teraman  dengan orang orang yang terpercaya.Bukan kah makna home menjadi begitu indah?Sebuah tempat dimana kita dapat berlari dan jatuh pada pelukan tangan yang selalu terbuka bagaimanapun keadaan kita.

Tapi tidaklah semua orang mempunyai rumah untuk pulang.Rumah yang mereka miliki adalah rumah dengan makna bangunan berdinding dengan jendela dan pintu serta beberapa ruangan di dalamnya.Dengan bentuk fisik yang biasa ataupun yang berdiri megah.Tidak ada kehangatan yang murni didalamnya.Rumah itu hanya tempat berkumpul orang orang dengan kesibukan dan pemikiran diri sendiri.Tempat kesedihan dan kemuraman muncul setiap saat.

Home pun bermakna kampung halaman.Setelah sekian lama melakukan perjalanan mencari sesuatu yang diinginkan, diimpikan. Tanah asing yang menjanjikan keindahan dan kemapanan.Suatu saat muncul rasa sepi dan kerinduan pada tempat dimana dulu pernah tumbuh dan hidup semasa kanak kanak.
Mereka yang beruntung dapat kembali pulang.tapi mereka yang tidak lagi memiliki tempat tersebut seperti orang orang pelarian, tergusur dari tanah sendiri secara paksa ataupun bencana,akan merasakan kerinduan itu terus mengikuti mereka.

Home juga bermakna munculnya penyesalan dari semua kesalahan yang mengakibatkan mereka begitu jauh meninggalkan tempat mereka pulang. Mereka ingin kembali pada keadaan semula.Kembali pada orang orang yang mencintai mereka dengan tulus.Menikmati kembali kehangatan dan kenyamanan yang sesungguhnya setelah lebur pada keadaan yang bersifat fatamorgana yang memabukkan..

Home, rumah tempat kita pulang adalah kekayaan terbesar,harta tak bernilai dalam hidup manusia.
Tempat kita menjadi manusia yang sesungguhnya.
Sepatutnya lah kita menjaga dan memelihara tempat pulang yang telah kita miliki.Untuk kita sendiri ataupun untuk kita persiapkan bagi mereka yang ingin pulang.Berbahagialah

Advertisements

The Science of Mom

Today’s guest post comes from Joanna Samuelson Lidback, a Vermont dairy farmer and a friend of mine from my undergraduate days at Cornell. I invited Joanna to submit a post about the differences in organic and conventional milk from both a farmer’s and a consumer’s perspective. I’m glad that she accepted, because I think her voice is important. Most of us buy milk every week, and yet when was the last time you sat down with a dairy farmer and talked with her in-depth about her farming practices?

Joanna’s story is personal; she’s writing about her family history and her livelihood. I expect that some of you will disagree with her conclusions about the value of organic milk, and that’s OK. I hope her post raises the level of awareness around farming practices in general and stimulates respectful discussion about our buying decisions. And if anyone is interested in submitting…

View original post 2,355 more words